budaya sarung tenun suku kajang kab.bulukumba -->

budaya sarung tenun suku kajang kab.bulukumba

Pengertian sarung tenun

Dalam kamus besar bahasa Indonesia memberikan pengertian kain adalah barang yang ditenun dari benang kapas, 2) barang tenunan untuk pakaian atau untuk maksud lain. Sarung adalah kain panjang yang dipertemukan kedua ujungnya, biasanya digunakan untuk kain sembahyang dan sebagainya. (Kamus Bahasa Indonesia.2012:256)

Sedangkan menurut Ariftanto dan Sitti Annigat Maimunah (1994:187) sarung ialah penutup. Sedangkan Poerwadarminta (1982:875) memberikan batasan yang lebih jelas tentang pengertian sarung yaitu kain panjang yang tepi pangkal dan ujungnya dijahit berhubungan. Sesuai dengan pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan pengertian sarung ialah kain panjang yang dijahit tepi pangkal dan ujungnya menjadi satu.

Tenun merupakan salah satu sarana seni yang patut delestarikan. Jadi pengertian tenun adalah kegiatan menenun kain dari helaian benang pakan dan benang lungsi yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (2010:610), tenun ialah hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dsb) dengan cara memasukkan pakan secra melintang pada lungsin. Dalam pengertian lainnya dikemukakan bahwa tenun adalah menyusun benang mendatar dan membujur dalam suatu kerapatan dengan memakai corak yang bermacam-macam. Sesuai pengertian tersebut maka penulis dapat menyimpulkan pengertian sarung tenun ialah benang yang tersusun datar dan membujur dalam satu kerapatan dan berbentuk kain panjang yang dijahit tepi pangkal dan ujungnya.

Sarung Tenun Kajang
Tenun di Suku Kajang lebih dari sekadar menciptakan lembaran-lembaran kain bermotif cantik, tapi merupakan cara pembelajaran hidup yang senantiasa berdampingan dengan alam.

Proses menenun di Suku Kajang masih terbilang tradisional dengan alat tenun peninggalan nenek moyang yang terbuat dari kayu. Masyarakat Kajang biasanya menenun di siring (bagian bawah) rumah. Kendati demikian, sekarang ini mereka sudah tidak lagi menggunakan benang kapas, melainkan benang pabrikan yang diperoleh dari pasar di Kota Makassar.

Adapun hingga kini, masyarakat Kajang masih mempertahankan motif kuno warisan leluhur, yakni motif ratu puteh, ratu gahu dan ratu ejah. Motif ini hadir berupa garis geometris halus yang membelah sarung tenun secara vertikal.

Sarung kajang memiliki fungsi Sosial dan Budaya karena menggambarkan kekhasan budaya setempat, Menjadi bahan seremoni (dalam upacara kebudayaan) misalnya adat kawin dan penyerahan hak. Disamping itu juga memiliki fungsi Ekonomikarena Sarung dapat diperjual belikan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pembuatan Sarung Tenun
Secara umum proses pembuatan sarung tenun masih bersifat tradisional dan hanya bisa dilakukan oleh tangan-tangan terampil. Adapun proses pembuatan sarung tenun secara umum dilakukan oleh perajin yaitu: Langkah awalnya yaitu penyediaan bahan dan alat yang diperlukan dalam proses pembuatan kain tenun. Selanjutnya, Proses pembuatan melalui beberapa tahapan, pertama yaitu pencelupan, Benang yang masih putih dicelup sesuai warna yang dikehendaki, setelah itu dijemur dengan bambu panjang di terik matahari untuk membuat kain dan selendang (ukuran lebar kain 90 cm untuk selendang 60 cm, sedangkan panjangnya 165 hingga 170). Setelah benang kering maka akan dilakukan proses desain (pencukitan) dengan menggunakan lidi sesuai dengan motif yang dikehendaki.

Setelah proses pencukitan selesai maka akan dilakukan proses penenunan yang memerlukan waktu mulai 2 hingga 3 bulan. Didalam proses penenunan ini benang lungsi dimasukkan kealat tenun melalui sisir tenun dan henddle utama pada rangkaian kain yang membentuk pola simetris dan diisi oleh benang dan benang berwarna tambahan. Alat yang digunakan untuk proses penenunan ini selain 1 (satu) set alat tenun, digunakan juga baliro yang digunakan untuk menyentak benang di lungsi dengan benang pakan. Benang pakan dimasukkan dengan menggunakan alat yang bernama peleting. Sedangkan untuk mempermudah benang pakan yang ada di peleting masuk ke lungsi teropong didorong melewati benang lungsi. Setelah benang di peleting lewat, baik benang sutera maupun benang emas ataupun benang limar, maka dilakukan penenunan dengan menyentak benang dengan beliro yang dibantu dengan sisir tenun. Proses penenunan dimulai dari ujung kain, dilanjutkan sesuai dengan motif kain. Setiap songket mempunyai tumpal kain. Tumpal kain biasanya diletakkan di bagian depan ketika kain dipakai.

TerPopuler